Pak
Tua yang baik hati dengan Pencuri
Sidaharja.com.
Saya ingin mengawali salah satu
renungan ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah nyata kehidupan yang
mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Kisah ini tentang orang tua yang hidupnya cukup sederhana walaupun
masuk pada kategori orang kaya di desanya, H.Mustofa namanya. Beliau sebagai
pentani yang rajin dan memiliki lahan sawah dan kebon yang cukup luas bahkan di
antara putra-putrinya banyak yang tidak tahu
dimana saja sawah dan kebunnya. Suatu hari sebagaimana biasanya
pekerjaan beliau pergi ke sawan dan kekebun, pada saat itu iapun asyik bekerja
membersihkan ladangnya.di tengah asyiknya bekerja disalah satu kolamnya ada
orang yang lagi memancing ikan dengan tenangnya seolah olah sedang mancing di
kolam milik pribadinya. Pak tuapun membiarkan pencuri itu memancing dengan
asyiknya. Disaat memancing telah selesai dengan hasil pancingannya yang cukup
banyak sang pencuri santai aja berlalu dihadapannya tanpa merasa bersalah. Pak
Tua bertanya”, mas sampun anggenipun mancing? “, gitu dengan bahasa jawanya.
Pencuripun menjawab dengan tenang dengan tidak curiga kalau yang bertanya itu
pemilik kolam, “ sampun pak ,” gitu jawabnya. Pak tuapun berkata,” yo wis beto
mawon kanggo lawuh aku ikhlas ko”, pencuri itupun merasa bersalah. Ternyata yang
dari tadi ada disitu itu pemilik kolamnya. Dengan sikap yang serba salah dan
takut Iapun meminta maaf dengan tidak akan mengulangi perbuatannya seraya
memberikan hasil pancingannya. Namun yang terjadi justru pak tua memaafkannya
dengan memberikan hasil pancingannya pada pencuri itu.” Monggo beto mawon go
lawuh sampaian lewih butuh.”
Hikmah yang
bisa kita petik dari kisah diatas adalah sikap dermawan, keikhlasan, kesabaran
dan cara pandang positif terhadap kehidupan.
Mampukah
kita tetap bersikap positif/ ikhlas disaat harta benda yang kita cintai diambil
orang dengan mencari sisi positifnya dari sebuah musibah?



