Social Icons

Pages

Kamis, 03 Maret 2016

Sikap Solideritas Sosial yang Tinggi

Sikap Solideritas Sosial Yang Tinggi

Sidaharja-Inspirasi jiwkau.com. Sikap solideritas sosial di tengah tengah manusia modern saat ini semakin

menipis dan sangat memprihatinkan.Mengapa hal ini terjadi sementara kita sama sama manusia yang fitrohnya saling membantu ? Mungkin ada baiknya bila jawabannya kita awali dari perjalanan saya beserta keluarga ke Yogjakarta. Saat itu mobil meluncur menuju Yogjakarta, di perjalanan antara kota Banjar - Majenang ada kecelakaan sepeda motor bukan karena tabrakam tapi tanpaknya pengendara lagi kecewa berat atau mungkin remnya yang blong, yang jelas motor tak terkendali dan masuk ke jurang. saat itu aku bilang tolong kita berhenti kita bantu tapi apa kata keluarga ," kita jangan ikut ikutan  malah terbawa bawa nanti, urusanya ribet", ya akhirnya sayapun mengalah.  sepanjang perjalanan saya berfikir bukan satu peristiwa saja mungkin banyak peristiwa yang lain yang membuat kita semakin hilang sikap solideritas sosialnya.
Berbeda dengan sebuah cerita yang sangat mengharukan saya, yang saya baca dari sebuah buku. Pada suatu hari ada sekitar 30 ustadz yang berlatih kepanduan. Saat malam tiba mereka merekapun mendirikan kemah. Selesai berbenah , bagian logistik agak kebingungan  ketika menghitung jatah makan malam ternyata tak cukup untuk 30 orang .Kabar jatah makan yang kurang ini terdengar ke para peserta kepanduan.
Kini malam pun tiba,para peserta kepanduan dipersilahkan untuk makan. Ditengah kegelapan malam, satu persatu para ustadz itupun datang, samar samar terlihat mengambil jatah makan. Hmm...nyam...nyam..., terdengar betepa mereka menikmati makan itu. Akhirnya, ke 30 ustadz itupun kembali dan istirahat ke kemah masing-masing. Lho? Aneh, bagaimana mungkin semua ustadz bisa memperoleh jatah makan malam ? Lalu mentari tersenyum malu-malu. Sedikit demi sedikit tatapan sinar matahari memancarkan sinar pai kepenjuru bumi. senyumnya begitu hangat menyapa butiran embun yang menggulir menysuri dedaunan. Ke-30 peserta kepanduan itu perlahan-lahan bisa mengedarkan pandangan, Subhanalloh, betapa indahnya alam cipataan Alloh desekitar tempat itu.
Nah, salah satu peserta yang semalaman kebingunan, yaitu yang bertugas sebagai bagian logistik, termasuk yang mengedarkan pandangan, ia masih tak habis pikir, bagaimana mungkin makanan yang sedikit itu bisa mencukupi makan malam 30 Ustadz?
Subhanalloh! Betapa terkejutnya ia, makan malam yang semalam dihidangkan masih utuh. Jadi.....para ustadz hanya datang pura-pura mengunyah, lalu balik ke kemah mereka msing-masing, tak satupun yang makan.
Hikmah apa yang bisa dipetik dari kisah di atas? Salah satunya adalah sikap solideritas sosial yang tinggi.
Kenapa para ustadz melakukan hal itu ? Mereka mempunyai kepekaan sosial yang tinggi dan bahkan lebih mementingkan kebutuhan orang lain. Yang menarik ternyata semua peserta kepanduan berfikiran yang sama. Para ustadz ingin mendahulukan kawan-kawannya di atas kepentingan dirinya sendiri.
Sikap mau memperhatikan dan mendahulukan orang lain, memang sangatlah sulit untuk kita temukan dizaman modern sekarang ini. Yang kita jumpai, malah mungkin sikap-sikap dan kecenderungan yang sangat individualis, permesif dan meterialistis.Kecenderungan seperti ini menyebabkan seseorang merasa asing dalam lingkungan yang begitu ramai. semua urusan diukur dengan materi,pertolongan, urusan, jasa dan tindakan-tindakan sekecil apapun sering dihargai dengan meteri  atau fulus. Karena itu wajarlah bila ada pepatah bilang," Ada fulus urusan mulus, tak ada fulus lu mampus."
Al hasil sikap memperhatikan maupun menghargai keberadaan orang lain, memang sangat penting untuk dimiliki setiap orang.Sehingga bila sikap ini ada dalam setiap orang, insya Alloh, hidup ini akan terasa lebih nikmat dan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates