![]() |
| Add caption |
Awas Gerhana Hati lebih Berbahaya !
Sidaharja.Inspirasijiwaku.com.Gerhana hakikatnya merupakan peringatan kepada manusia
yang maha kecil, yang hakikatnya manusia tidak ada apa-apanya. Apabila makhluk-makhluk yang di langit secara fisik begitu hebat, begitu besar serta
taat dan tunduk kepada hukum alam, taat dan tunduk kepada sunnatullah,
sehingga pada suatu saat terjadilah kejadian yang disebut khusuf
(gerhana). Maka hahikatnya, seperti itulah pada suatu saat tidak mustahil
manusia pun akan mengalami kegelapan, akan mengalami khusuf, seperti gelapnya
matahari, gelapnya bulan, seperti gelapnya bumi. Namun biarlah matahari dan
bulan termasuk bumi yang mengalami khusuf, asalkan jangan hati-hati manusia
yang mengalami gerhana, yang mengalami kegelapan. Kenapa demikian? Dapat kita
bayangkan, apabila hati-hati manusia sudah gelap, apalah kiranya yang terjadi
pada satu lingkungan yang di diami oleh manusia? Oleh karenanya, pada satu
kesempatan Jibril secara pribadi berdialog dengan Rasulullah SAW, yang tentu
pada hakikatnya hal ini adalah merupakan peringatan kepada diri kita
masing-masing.
Jibril berkata : “Yaa muhammad, isy maa syi’ta
(Wahai Muhammad, silahkan engkau hidup sekehendakmu, hidup bebas tanpa batas,
hidup tanpa aturan dan ketentuan), tetapi ingatlah hakikatnya tidak ada manusia
yang abadi, tidak ada manusia yang hidup kekal, fainnaka mayyitun
(sungguh engkau akan mengalami proses kematian)”. Maka oleh karenanya
sebagaimana yang kita maklumi, bahwa beda antara manusia dengan hewan secara
mutlak, sehingga ada orang yang mengungkapkan, apabila hewan secara mutlak
mengalami kematian bakal bilatungan (akan belatungan), tetapi manusia
kalau mengalami kematian bakal nyanghareup balitungan (akan menghadapi
hisab/perhitungan). Dalam arti, ingat bahwa manusia diwujudkan tidak abatsan
(sia-sia), ada maksud dan tujuan tertentu.
Suatu saat, hasil dari pada perjalanan hidup yang
relatif sebentar, justru inilah yang sebentar itu yang akan menentukan
kelanggengan hidup di sana, kelanggengan hidup di yaumil akhir, apakah
kenikmatan yang langgeng atau kebalikannya, kesengsaraan yang langgeng?
Jibril berkata kemabali : “Wa ahbib maa syi’ta
(silahkan kau cintai siapa dan apa saja), tetapi ingat fainnaka mufaariquhu
(sungguh akan berpisah)”. Mau mencintai istri, suatu saat mufaariquhu,
mencintai suami, suatu saat mufaariquhu, mencintai anak, suatu saat mufaariquhu,
akan berpisah antara yang mencintai dengan yang dicintai.
Makanya wajar apabila Rasulullah SAW pernah
menyatakan, apabila manusia mengalami al-mautu, maka yatba’ul-mayyita
tsalaatsatun, ada tiga perkara yang akan mengikuti mayyit dengan
kematiannya itu. Yang pertama ahluhu (keluarganya) wa maaluhu (hartanya)
wa ‘amaluhu (dan amalnya), yarji’u minhu-tsnaani (namun yang dua
tidak turut ikut, yang dua akan kembali lagi). Yang mana yang tidak mau ikut
itu? Maalhu wa ahluhu (harta dan keluarganya), yang tetap setia adalah ‘amaluhu
(amalnya), yatba’uhu amaluhu. Yang menjadi masalah, amal yang mana,
apakah yang termasuk pernyataan faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan
yarahu atau faman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu?
Yang jelas ikutilah petunjuk Rosullulloh ",wa atbi’is-sayyiatal-hasanata (ikutkan
perbuatan yang buruk itu dengan perbuatan yang baik), tanhuuhaa (agar
perbuatan yang baik itu bisa menutupi perbuatan-perbuatan yang tidak baik).
Mudah-mudahan peristiwa gerhana yang kesekian kali yang kita alami
pada saat ini akan menjadikan penggugah bagi diri kita masing-masing. Semoga
Allah memberikan limpahan maghfirah dan rahmat-Nya kepada diri kita
masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar